• This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Rabu, 10 September 2014

Cara Menggunakan Umpan Lumut

Memancing dengan lumut umumnya dilakukan untuk menangkap ikan mujair atau ikan nila. Dua jenis ikan ini yang menjadi target sasaran pemancingan dengan umpan lumut, karena umpan ini adalah makanan alami dari ikan nila di alam liar. Jarang sekali ikan nila yang sudah diternakkan di kolam pancing mau makan umpan ini, mengingat kebiasaan makan mereka yang sudah berubah dari pakan alami menjadi pakan buatan yakni pelet. Penggunaan lumut sebagai umpan dipakai untuk memancing di danau dan waduk.

Lumut yang dipakai untuk memancing merupakan lumut sungai yang masih segar, karena lumut yang masih baru dan segar memiliki bau yang khas. Lumut ini dapat diperoleh di sungai-sungai yang berbatu-batu atau lumut yang berada di sawah. Lumut untuk pemancingan biasanya diambil yang masih hijau, segar dan sudah memiliki helai – helai (tandanya sudah cukup tua). Lumut yang dahulu gratis dan tersedia banyak di sawah sekarang bahkan dibudidayakan untuk melayani pemancing yang ingin mendapatkannya tanpa harus bersusah payah.

Lumut adalah tanaman yang tumbuh di tempat-tempat yang lembab. Lumut merupakan jenis makanan yang sangat disukai oleh ikan mujahir. Jenis lumutnya adalah lumut hijau. Lumut Hijau tumbuh di area persawahan, Sungai, dan kolam kolam. Kalau lumutnya tebal, banyak, kita tidak susah mengambilnya, tapi kalau lumutnya sedikit, berpencar-pencar, kita harus menggunakan seser penyaring untuk mengambilnya. Lalu, bagaimana caranya kita menempatkan lumut pada mata kail? Berikut petunjuknya…

1. Kail dirangkai bersusun 4-6 mata kail, dengan jarak +- 1 cm.

2. Tarulah lumut di dalam ember kecil atau mangkok yang berisi air.

3. Pegang Mata kail dan senarnya dengan kedua tangan, maksudnya, tangan yang satu memegang mata kail, yang satunya lagi memegang senar, celupkan ke dalam wadah lumut tadi, putar tangan yang memegang mata kail hingga lumut membelit senar.

4. Angkat tangan yang memegang senar dan lepas tangan yang memegang mata kail, geser lumut yang membelit senar hingga membetuk gumpalan di mata kail. atur besar kecilnya gumpalan sesuai keinginan kita.

5. Mata kail di lempar ke air pada 1 titik di ulang (ngebom) maka ikan akan datang dengan sendirinya.

Catatan:
Lumut jangan terkena sinar matahari langsung karena menyebabkan lumut bisa busuk.

Nah kita siap melempar pancing kita dengan mengguankan umpan lumut. Jangan lupa umpan lumut harus terapung di permukaan air, sehingga pancing kita harus menggunakan pelampung.



Mancing Tawes


Ikan tawes adalah salah satu ikan favorit bagi pemancing air tawar, karena ikan tawes memiliki daging yang kenyal dan sedikit lemak. Ikan ini merupakan salah satu ikan asli Indonesia terutama pulau jawa, maka nama latinnya adalah Puntius Javanicus. Ikan tawes dalam habitat aslinya adalah ikan yang berkembang biak di sungai dan rawa–rawa dengan lokasi yang disukai adalah perairan dengan air yang jernih dan terdapat aliran air, mengingat ikan ini memiliki sifat biologis yang membutuhkan banyak oksigen. Jika ditempatkan dalam air yang miskin oksigen ia dengan mudahnya mati.

Mancing ikan tawes membutuhkan kesabaran luar biasa. Ikan ini sangat sensitif, dan sangat kuat tarikannya. Ikan Tawes adalah sejenis ikan permukaan yang sangat suka memburu benda-benda bergerak di permukaan air. Oleh sebab itu, untuk memancingnya sangat tidak disarankan menggunakan teknik dasaran.

Ikan tawes merupakan ikan liar, meski sekarang juga sudah dibudidayakan di kolam namun di beberapa tempat masih dapat ditemui keberadaannya. Di alam, ikan ini biasa didapatkan dengan alat tangkap jaring, ngesar, tuguk, jala dan alat tangkap trap yaitu sengkirai. Ukuran yang paling banyak tertangkap di perairan berkisar antara 50-200 gram dan biasa dikonsumsi dalam keadaan segar.

Kalau umpan Tawes menggunakan cacing merah, laron, kotoran gemak/puyuh, bungkil atau pelet yang diramu dan diberi essen tertentu sih itu sudah biasa. Yang paling asyik apabila kita menggunakan umpan jenis daun-daunan. Tarikan dan rasa hentakannya sunguh luar biasa. Daun-daunan yang paling banyak disukai oleh Tawes adalah rumput-rumputan, daun kacang panjang atau daun kacang hijau, lembayung muda, kangkung, bayam, daun rambatan, dan bisa juga menggunakan seuntai bulir padi.

Umpan Tawes: Rumput-rumputan
Apabila kita ingin menggunakan rumput-rumputan, cari rumput panjang (teki) yang ada ditengah sawah, pilih yang lunak, dan yang paling bagus adalah rumput yang tumbuh diantara tanaman kacang tanah. Pilih sebagian digunakan untuk Bom (rumpon pengundang gerombolan ikan Tawes), dan sebagian lainnya untuk umpan.

Cara memasang umpannya adalah:

· Pakai pelampung yang berbentuk panjang agar mudah dilempar, pilih senar yang lembut ukuran 10-15 lbs,

· Gunakan timah lempengan agar bisa ditempelkan di atas rangkaian pancing.

· Gunakan pancing yang kecil, maksimal ukuran 4-6.

· Pakailah rangkaian pancing tunggal.

· Pasang rumput dengan cara dijepit dengan timah yang sudah ditempelkan pada senar di atas rangkaian pancing, kemudian lilit dengan sisa senar di atas pancing, dan terakhir, pancing ditancapkan di ujung rumput. Dikira-kira penempatannya, jangan terlalu keujung, tetapi juga jangan terlalu ke tengah.

· Setelah terangkai dengan baik, Lemparkan pancing ke arah bom.

· Tunggu dan sekalian berdoa yang banyak agar ikan segera memakan umpan.

Umpan Tawes : Daun-Daunan
Triknya mirip dengan menggunakan umpan tawes rumput-rumputan, tetapi pemasangan umpannya tidak serumit apabila menggunakan rumput. Cukup daunnya dikaitkan ke pancing, dan tinggal lempar ke sasaran (bom). Apabila menggunakan daun-daunan, sebaiknya rangkaian timah agak diperberat agar mudah untuk melemparkan ke sasaran.

Umpan Tawes : Padi
Kalau menggunakan umpan tawes dengan padi, pemasangannya mirip dengan cara memasang umpan rumput. Keuntungannya karena lebih berat sehingga melemparnya menjadi lebih mudah. Sedangkan padi yang dipilih, harusnya yang sudah berisi, tetapi tidak terlalu tua, karena mudah putus ketika akan dipasang. Pilih untaian padi yang penuh, dan tidak terlalu panjang.


(Berbagai sumber)

Getaran, Warna, Bau dan Aroma Umpan


Ada beberapa ikan yang buta warna alias melihat sesuatu yang hitam, putih, dan kelabu. Lantas apa gunanya warna pada umpan terutama umpan mancing laut yang umpan buatannya berwarna-warni?

Sebenarnya warna umpan tadi bila dikonversi ke mata ikan akan menghasilkan pendar warna kelabu yg berbeda. Kalau dipersempit ke ikan mas galatama mungkin dipercaya warna umpan yg dipakai apakah merah, hijau, atau coklat kebetulan disukai ikan. Ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang umpan terutama ikan galatama.

Getaran
Getaran (kita menyebutnya suara) terjadi pada saat umpan dijatuhkan, ini menjadi daya tarik utama ikan yang lapar. Tentunya tidak berlaku pada ikan mas liar (pd habitat alami), ikan mas besar/ikan mas yang ada dekat lapak karena getaran yg berlebihan malah akan membuat lari ikan tersebut.

Warna umpan
Warna seperti disebut diatas yang dipercaya sebagai warna makanan yang biasanya dimakan. Pemilihan warna umpan akan berbeda tidak saja dari empang satu ke empang yang lain bahkan pada satu empang galatama dengan lapak yang berbeda.

Untuk memilih warna umpan, tentunya disesuaikan dengan karakteristik empang tempat mancing. Untuk empang yang telah biasa dikunjungi tentu mudah menentukan warna umpan yang sesuai tetapi bila empang itu baru saja atau belum lama kita bertanding di situ.

Bau atau Aroma
Aroma yang disukai ikan mas galatama dapat bermacam-macam. Banyak faktor yang mempengaruhi kita dalam memilih aroma umpan. Bila anda sering mancing hanya di satu empang galatama saja, nantinya anda akan hapal ikan yang mana yang memakan umpan tersebut.

Umpan yang bagus berbeda disetiap tempat untuk empang yang kondisi airnya bagus berwarna kecoklatan. Umpan berbahan dasar ubi lebih baik, bila airnya berwarna kehijauan. Umpan berbahan dasar pelet biasanya akan lebih baik, untuk empang biasa pelet yang diaduk dengan tuna kaleng sudah cukup memadai.

Bila siang hari ikan berhenti makan, hal ini sudah umum artinya bukan karena ikan tidak mau memakan umpan melainkan ikan sedang dalam keadaan kenyang dan panas mentari yang mengurangi kadar oksigen dalam air. Ikan mas cenderung makan terus alias galak terutama pagi hari saat lomba dimulai dan sore hari saat terik mulai menurun. Kecenderungan makan ikan mas sangat dipengaruhi kondisi air dan cuaca. Saat hujan pun ikan mas cenderung galak apalagi jika saat hujan berhenti diikuti keluarnya mentari yang kembali menghangatkan air.



(sumber : umpan mancing)

Mancing Udang Galah

Udang memiliki anatomi yang berbeda dengan ikan, oleh karena itu cara memancing udang galah pun juga berbeda dengan memancing ikan pada umumnya. Ketelitian sangat diperlukan dalam memancing udang galah ini. Sebenarnya penggemar mancing udang sangat banyak di indonesia, hanya saja mereka tidak terexpose oleh media-media. Sehingga informasi tentang mancing udang ini tidak sepopuler mancing ikan. Tapi hal ini tidak mempengaruhi bagi mereka yang gemar memancing udang.

Peralatan Mancing
1. Gunakan joran Antena atau Sambung Dua yang halus dan lentur pada bagian ujungnya agar lebih
sensitif dan juga memiliki cincin atau ring yang kecil. Panjang joran antara 1.3 – 1.8 m
2. Reel spinning untuk kolam ukuran 2-8 lbs
3. Line Monofilament ukuran 1-2 lbs pada mainline dan 2-8 lbs untuk leader
4. Gunakan kail khusus untuk udang atau circle hook tanpa kait (barbless)
5. Timah dengan bentuk telur atau lonjong dilengkapi dengan stopper. Timah juga jangan terlalu berat yang penting tidak terbawa oleh arus.

Umpan
Umpan yang digunakan untuk mancing udang galah biasanya cacing tanah, cacing susu, cacing
bakau, bahkan anak udang. Sementara untuk chumming digunakan kelapa bakar yang dipecah-pecah.

Spot Udang Galah
Pada saat air pasang dan curah hujan tinggi adalah waktu yang harus dihindari untuk mancing
udang, Karena sangat sulit untuk mendapatkan udang pada waktu itu. Udang akan sangat agresif
untuk dipancing pada waktu malam hari. Tempat favorit bagi udang biasanya diantara kayu
log/glondongan yang terendam di sungai, selain itu udang juga sering bermain dibagian dasar
sungai.

Memancing udang galah harus sabar, lembut dan penuh perasaan. Pada saat umpan dimakan oleh
udang, joran akan melengkung, yang perlu kita lakukan tahan saja jangan digentak karena akan
membuat mulut udang robek. Angkat joran pelan-pelan sambil menggulung reel pelan-pelan dengan
posisi ujung joran diatas udang sehingga line tegak lurus dengan permukaan air. Udang biasanya
jika terkena pancing akan mundur kebelakang dan membengkokan tubuhnya, jika digentak atau
ditarik terlalu kencang akan membuat mulutnya sobek terkena kail.

Pada saat udang berhasil dinaikan keatas jangan pernah menyentuh atau memegang ekor udang
karena terdapat semacam sungut yang cukup tajam serta di kepala udang terdapat tanduk yang
bergerigi yang cukup sakit jika tertancap di jari. Sementara capitnya tidak terlalu berbahaya
asal tidak terkena ujung capitnya saja.

(sumber : IFT)

Memancing di Malam Hari


Mancing di waktu malam ternyata tidak kalah mengasyikan dengan mancing di siang hari. Walaupun memang mancing di malam hari membutuhkan konsentrasi yang lebih banyak karena suasana yang gelap. Selain suasana yang tenang yang bisa kita dapatkan dan yang pasti jauh dari rasa panas matahari.

Berikut ini ada beberapa peralatan yang bisa memudahkan kita untuk mancing di malam hari.

1. Chemical Light Snap
Alat ini biasanya dipasang di ujung pelampung sehingga kita bisa melihat dalam kegelapan saat pelampung bergerak tanda umpan sedang dimakan ikan. Alat ini berbentuk stik kecil dan berisi cairan yang dapat menyala jika dipatahkan. Cairan ini bisa bertahan hingga 5-7 jam sehingga cukup untuk digunakan di malam hari saat anda memancing.

2. Bel kecil/Klinthingan (Jawa)
biasanya diletakkan pada ujung joran atau stick yang gunanya sebagai indikator bunyi kalau ikan memakan umpan kita. Cara memancing ini biasanya dikenal dengan cara memancing jegog- an. Umpan pancing yang sudah dikuatkan dengan tepung atau dengan telur dipadatkan serta di beri mata pancing dengan jumlah yang cukup banyak sehingga ikan susah membedakan mana umpan mana pancing. Penggunaan mata pancing yang banyak membuat pemancingan menjadi lebih sukses.

3. Lampu penerangan
Ada banyak cara yang dilakukan pemancing untuk mancing di malam hari, gelap tidak akan jadi penghalang untuk mancing karena sebagian dari mereka sudah menyiapkan penerangan mulai dari lampu templok, petromaks bahkan ada juga yang menggunakan genset mini sebagai sumber penerangan.

Udara malam terkadang bisa sangat dingin untuk itu sebaiknya anda membawa perlengkapan diri seperti jaket, sepatu boot dan baju hangat agar terhindar dari udara dingin. Untuk menambah kehangatan dan keakraban bersama teman-teman saat mancing, bawa juga termos yang berisi kopi panas dan makanan ringan, mancing akan terasa jadi lebih asyik tentunya.

Memancing di malam hari memang bisa menyenangkan jika anda membawa perlengkapan yang lengkap, meskipun lebih repot kemungkinan memancing ikan di malam hari juga menjanjikan.



 (sumber : Pemancing)

Ikan Air Tawar Yang Sering Terpancing


Ikan air tawar sangat beragam jenisnya, beberapa diantaranya termasuk ke dalam golongan ikan kosmopolit. Ikan kosmopolit merupakan ikan yang keberadaannya melimpah di hampir semua tipe habitat perairan sehingga ada di mana-mana. Lawannya adalah ikan endemik (ikan yang hanya ada pada daerah tertentu), misalnya Rainbow Irian (iriantherina werneri) hanya ada di Papua, tidak ada di tempat lain atau Wader Buta (puntius microps) hanya ada di sungai bergua-gua di Sungai Opak, Oyo dan Progo di Jawa Tengah dan Yogya (tapi sayang sudah punah).

Berikut ini beberapa ikan yang termasuk ke dalam golongan ikan kosmopolit karena merupakan ikan air tawar yang sangat sering terpancing oleh para pemancing air tawar maupun nelayan baik di sungai, rawa, ataupun danau. Diantaranya:

Ikan Gabus (Channa Striata)

· Tersebar : Jawa, Sumatera, Kalimantan dan di introduksi ke Sulawesi. Nama dearah, gabus, kutuk, deleg, bado, bace, sepungkat, haruan, bakok, pior, ruting, dan ruang. Besar maksimal 4 kg.

· Biologi : Ikan permukaan, pemakan ikan, segala musim, dipancing siang malam.

· Rekor IGFA : 3 kg oleh J.F.Hellias (Perancis) di Sungai Pekree, Thailand, Februari 2001.

· Umpan : Flies, minnow, cacing, katak, jangkrik dan ikan-ikan kecil.

Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus)

· Tersebar : Ikan yang kosmopolit adalah lele dumbo asli Afrika Selatan tapi kosmopolit di Indonesia. Besar maksimal 60 kg.

· Biologi : Ikan dasar, pemakan ikan, segala musim, dipancing siang dan malam.

· Rekor IGFA : 36 kg oleh Henni Molle (Afsel) di Sungai Orange, Afsel, 1992

· Umpan : Udang, ikan-ikan kecil dan pelet.

Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)

· Tersebar : Kosmopolit se Indonesia. Nama daerah nila, di Yogya disebut kakap gunung, padahal tak ada hubungan dengan kakap laut. Besar maksimal 6,5 kg.

· Biologi : Semua masa air, pemakan segala, segala musim, dipancing siang malam.

· Rekor IGFA : 6,1 kg oleh Karel Van Poryen asal Afsel di Zimbabwe, Juli 2002.

· Umpan : Cacing, pelet dan lumut.

Ikan Mujair (Oreochromis Mossambicus)

· Tersebar : Kosmopolit se Indonesia. Besar maksimal 4,5 kg

· Biologi : Semua masa air, pemakan segala, segala musim, dipancing siang malam.

· Rekor IGFA : 3,11 kg oleh Eugene.C.Krugger di Afrika Selatan, tahun 2003

· Umpan : Cacing, pelet dan lumut.

Ikan Betutu (Oxyeleotris Marmorata)

· Tersebar : Kosmopolit se Indonesia. Nama daerah, bodo, males, beluru, batutu, bakutu dan kembo. Besar maksimal 5 kg.

· Biologi : Ikan dasar, pemakan segala, segala musim, dipancing siang dan malam.

· Umpan : Cacing, cere, jangkrik , pelet udang dan ikan-ikan kecil.

Ikan Baung (Mystus Nemurus)

· Tersebar : Kosmopolit se Indonesia kecuali Sulawesi dan Papua. Nama daerah, blukang, sogo, baung, jendil, gesso, baceman dan juaro. Besar maksimal 70 cm / 5-6 kg.

· Biologi : Ikan dasar, pemakan segala, musim hujan dominan dan dipancing malam lebih mudah.

· Umpan : Usus ayam, ikan kecil, udang, pelet dan cacing.

Ikan Patin (Pangasius sp)

· Tersebar : Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Nama daerahnya jambal, patin dan pangasisus. Besar maksimal jambal di Wonogiri pernah terjaring 25 kg.

· Biologi : Ikan dasar, pemakan segala, musim hujan dominan, dipancing malam lebih dominan.

· Rekor IGFA : Pangasius Hypothalamus 17 kg oleh Leonardo Kuoba, di Danau Bung Samlan, Thailand, April 2000, dan Pangasiodon Gigas, 75 kg oleh Sandy Weed USA, di Danau Bung Samlan, Thailand, September 2000

· Umpan : Pisang biji, buah sawit, usus ayam, ikan kecil, udang, pelet dan cacing.

Ikan Toman (Channa Micropeltes)

· Tersebar : Pulau Jawa bagian barat, Sumatera dan Kalimantan. Nama daerahnya tahuman, tauman, toman dan tobang. Besar maksimal 30 kg.

· Biologi : Ikan permukaan, pemakan ikan, segala musim, dipancing malam siang.

· Rekor IGFA : 10 kg oleh Christopher G.Tan (Malaysia) di Denkil, Malaysia.

· Umpan : Ikan kecil, udang, cacing, katak dan umpan tiruan dengan cara kasting.

Ikan Belida (Chitala sp)

· Tersebar : Jawa bagian barat, Sumatera dan Kalimantan. Nama daerah, pipih, blido dan belida. Besar maksimal 5-20 kg tergantung jenis. Kini belida menyusut populasinya dan termasuk dilindungi. Bila mania mendapatnya saat mancing, sebaiknya dilepas dan diharapkan bisa berkembang biak di alam.

· Biologi : Ikan dasar, pemakan ikan, musim hujan dominan, dipancing malam lebih dominan.

· Rekor IGFA : – Chitala-chitala : 5,78 kg oleh Pat Faralloliti, Okt 2004, di Danau Eden Delray USA. - Chitala Lopis : 20 kg oleh J.F Helias, April 2006 di Dam Srinakarim, Thailand. - Chitala Ornata : 8 kg oleh Terry Robert Mathew, Feb 2006, di Dam Srinakarin, Thailand.

· Umpan : Usus ayam, ikan kecil, udang dan cacing.

Ikan Sapu-Sapu (Hypostomus Plecostomus)

· Tersebar : Asli Sungai Amazone, melimpah di Pulau Jawa. Nama daerah, Sakarmut, sapu-sapu, dan ikan pembersih kaca. Besar maksimal <50 cm.

· Biologi : Ikan dasar, pemakan segala, musim apapun, siang dan malam. Walau termasuk “ecek-ecek” bisa mengklaim di rekor bila sudah melalui rekor IGFA

· Rekor IGFA : 1,2 kg oleh Dirk.A.Mueller (USA) di Danau Bung SamLan, Thailand, Juli 2003.

· Umpan : Usus ayam, ikan kecil, udang, pelet dan cacing.

Ikan Gurami (Osphronemous Gourami)

· Tersebar : Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Nama daerah, kalui, gurameh dan gurami. Besar maksimal 8 kg.

· Biologi : Ikan permukaan, pemakan tumbuhan dan segala musim, siang dipancing lebih dominan.

· Rekor IGFA :5,60 kg oleh Nutapol Wangwongvirat (Thailand) di Danau Bung SamLan, Oktober 2004, di Thailand.

· Umpan : Pisang biji, buah sawit, usus ayam, ikan kecil, udang, pelet dan cacing.

Ikan Bawal (Collosoma sp)

· Tersebar : Asli Brasil, berkembang luas di Indonesia. Besar maksimal panjang 1 meter / 30 kg. Lebih banyak populasinya di kolam pancingan daripada di alam. Sesekali terpancing di sungai, danau atau waduk.

· Biologi : Ikan semua masa air, pemakan segala, musim apapun, dipancing siang lebih dominan.

· Rekor IGFA : 9,58 kg oleh Ken Bohling di Sungai Parana(Argentina), Jan.1993.

· Umpan : Usus ayam, ikan kecil, udang, pelet, cacing, serta umpan tiruan.

Ikan Betik (Anabas Testudineus)

· Tersebar : Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Nama daerah, betik, papuyu, bato, betok, harfan, puyu, puyo-puyo, geteh, oseng, kusa, kusong, hoseng dan useng. Besar maksimal 30 cm.

· Biologi : Semua masa air, omnivora, segala musim, siang hari lebih dominan. Merupakan ikan khas rawa dan sungai yang menggenang.

· Umpan : Cacing, ikan kecil, udang, pelet, cere, serangga dan jangkrik.

Ikan Sili (Mastamcembelus Macrognatus)

· Tersebar : Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Nama daerah, silli, sisili, deler, beros, silih, kesili, lengeo dan tilan. Besar maksimal panjang 40-50 cm.

· Biologi : Hidup di dasar sungai banjir, omnivora, musim hujan, siang dan malam sama baik untuk memancingnya. Melimpah di sungai yang banjir (kecoklatan).

· Umpan : cacing, ikan kecil dan udang.

Ikan Keting (Mystus Nigriceps)

· Tersebar : Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian. Nama daerahnya ndaringan, keting, senggiringan, sengat, kelibere, ririgi dan lundu. Besar maksimal 20 cm.

· Biologi : Hidup di dasar air, omnivora, melimpah musim hujan, siang dan malam sama dominannya. Melimpah di sungai yang banjir dan muara saat penghujan.

· Umpan : Cacing, katak, ikan kecil dan udang.

Budidaya Ikan Gurami



Ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lacepede) merupakan ikan tawar keluarga Anabantidae. Ikan ini mempunyai bentuk badan pipih dan lebar. Pada ikan yang sudah dewasa, lebar badannya hampir dua kali panjang kepala atau ¾ kali panjang tubuhnya. Bentuk kepala ikan gurami yang masih berusia muda lancip ke depan, dan setelah tua menjadi dempak. Warna tubuhnya terutama di bagian punggung adalah merah sawo sedangkan pada bagian perut berwarna kekuning-kuningan atau keperak-perakan. Sepasang sirip perut gurami akan mengalami perubahan menjadi sepasang benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba. Sirip yang keras menempel pada punggungnya sedangkan garis rusuknya menyilang di bagian bawah sirip punggung. Panjang tubuh maksimum 65 cm.
Strain gurami yang dikenal masyarakat cukup banyak dan bervariasi dimana antar strain dibedakan berdasarkan kemampuannya dalam memproduksi telur, kecepatan tumbuh dan bobot maksimal yang bisa di capai setelah dewasa. Namun demikian belum ada penetapan strain gurami yang standar dari instansi yang berwenang. Beberapa yang dikenal dalam masyarakat adalah gurami blue safir, paris, baster dan batu. Ikan gurami merupakan ikan yang relatif lambat pertumbuhannya dan baru mencapai kematangan telur sekitar umur 2 tahun.


SYARAT LOKASI USAHA
Untuk mendapatkan kualitas ikan gurami yang optimal, maka berikut ini adalah persyaratan minimal yang harus dipenuhi
1. Dilaksanakan di dataran rendah pada ketinggian 20 – 400 m dpl
2. Kuantitas dan kualitas air mencukupi. Kualitas air yang dibutuhkan yaitu air tenang, bersih, dasar kolam tidak berlumpur (kekeruhan air 40 cm dari permukaan air), tidak tercemar bahan kimia beracun dan limbah (kadar NH3 tidak lebih besar dari 0,02%), kemasan air (pH) 6,5-8. Apabila pH di bawah 6,5 maka untuk menaikkan pH di lakukan pengapuran dengan CaCO3, sedangkan apabilah pH diatas 8 maka untuk menurunkan dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang.
3. Tanah tidak berporous dan cukup mengandung humus. Tanah yang tidak berporous dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor, sedangkan perbandingan antara tanah liat dan pasir kurang dari 60%:40%.
4. Kemiringan tanah 3%-5% untuk memudahkan pengairan kolam
5. Temparatur optimum 25-30oC
6. Kandungan oksigen dalam > 2 ppm, Habitat ikan gurami adalah rawa, sungai, telaga dan kolam. Sedangkan pemeliharaan oleh pembudidayaan biasanya di kolam.

TAHAPAN BUDIDAYA
Budidaya ikan gurami dapat dibagi dkedalam beberapa tahapan berikut
1. Pendederan 1 (D1) : pemeliharaan benih 0,5 gram hingga mencapai berat 1 gram selama 1 bulan
2. Pendederan 2 (D2) : pemeliharaan benih 1 gram hingga mencapai berat 5 gram selama 1 bulan
3. Pendederan 3 (D3) : pemeliharaan benih 5 gram hingga mencapai berat 20-25 gram selama 2 bulan
4. Pendederan 4 (D4) : pemeliharaan benih 20 -25 gram hingga mencapai berat 75-100 gram selama 2 bulan
5. Pendederan 5 (D5) : pemeliharaan benih 75 -100 gram hingga mencapai berat 200 -250 gram selama 3 bulan.

1. Tahap pembenihan yang mencakup tahap pemijahan, penetesan telur dan perawatan larva. Telur yang telah menetas dari induknya dipelihara hingga menjadi larva dengan berat 0,5 gram selama 1 bulan.
2. Tahap pendederan yaitu tahap pemeliharaan benih gurami sejak 0,5 gram sampai menjadi berat 200-250 gram yang siap dibesarkan. Penderan dibagi kedalam 5 tahap sebagai berikut :
3.Tahap pembesaran yaitu pemeliharaan benih 250-250 gram hingga mencapai ukuran konsumsi dengan berat lebih dari 500 gram selama 3 bulan.
Selain tahapan budidaya sebagaimana tersebut diatas, ada pula yang membagi tahapan pendederan dalam 3 tahapan saja berat 1 gram hingga mencapai berat 20-25 gram.

Alasan membagi budidaya ikan gurami dalam tahapan tersebut diatas adalah :

1. Membudidayakan ikan gurami sampai dengan ukuran konsumsi memakan waktu cukup lama sehingga perolehan hasil usaha dirasakan cukup lama.
2. Permintaan produk untuk setiap tahapan (dalam bentuk telur, benih dan ikan ukuran konsumsi) cukup tinggi
3. Keterbatasan modal dan lahan usaha apabila pembudidaya harus melaksanakan tahapan dalam satu siklus penuh
4.Dengan demikian maka pembagian tahapan ini membantu pembudidaya dalam hal ini :
-Mempersingkat masa panen
-Menghasilkan pendapatan pembudidaya dengan keuntungan yang cukup memadai
-Menurunkan resiko kegagalan panen

Adanya tahap budidaya tersebut dapat membuka peluang usaha budidaya ikan gurami yang cukup luas sejak pembenihan sampai dengan pembesaran yang berkaitan antara satu dengan yang lain dalam satu sistem budidaya ikan gurami.

TEKNOLOGI TEPAT GUNA
Tingkat teknologi yang digunakan untuk budidaya ikan gurami umumnya di klasifikasikan ke dalam 3 jenis yaitu tradisional, semi intensif dan intensif, namun tidak ada batasan yang pasti dan jelas antara ketiga tingkat teknologi tersebut karena penggolongannya hanya dilakukan melalui perbedaan ciri-cirinya saja. Kebanyakan yang dilakukan masyarakat adalah teknologi tradisional dan semi intensif. Klasifikasi teknologi tersebut berpedoman pada Sapta Usaha Perikanan yang meliputi :
1. Pengolahan lahan
2. Pengairan
3. Pemupukan/pemberian pakan
4. Penyediaan benih atau induk yang unggul
5. Pencegahan hama dan penyakit
6. Panen
7. Perbaikan manajemen usaha tani

Ciri-ciri penggunaan teknologi tradisional adalah hanya mengandalkan pada kondisi alam saja, pemberian pakan secara alami, pemeliharaan ikan gurami dimaksudkan hanya sebagai tabungan saja dan dipanen setahun sekali dalam rangka memenuhi kebutuhan hari lebaran/hari besar. Sedangkan ciri-ciri teknologi semi intensif adalah sedikit banyak telah melaksanakan kegiatan budidaya sesuai dengan Sapta Usaha Perikanan misalnya dalam hal pakan telah menggunakan pakan buatan disamping pakan alami dan telah dilakukan pengaturan kualitas air, namun belum secara terukur dan terkontrol. Ciri-cir teknologi intensif adalah mengacu pada Sapta Usaha Perikanan dan dilakukan secara terkontrol.

TEKNIS BUDIDAYA

Budidaya ikan gurami memerlukan kolam penyimpanan induk, kolam pemijahan, kolam/bak penetasan dan pemeliharaan benih, kolam pendederan, kolam pembersaran dan kolam pemberokan (penyimpanan sebelum di pasarkan). Sebelum dilakukan kegiatan budidaya, perlu dilakukan pembuatan kolam yang meliputi antara lain pembuatan pematang, saluran pemasukan air dan saluran pembuangan air, pintu pematang air, pintu pembuangan air, caren dan kowean (sering pula disebut kemalir dan kobakan), serta pengolahan dasar kolam dengan pupuk dan kapur. Setelah kolam siap untuk digunakan, baru dilakukan kegiatan pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan gurami.

Persiapan kolam
Tahap persiapan kolam untuk pembenihan, pendederan maupun pembesaran prinsipnya hampir sama, hanya dibedakan pada padat tebar dan jenis pakan yang diberikan serta ketinggian air yang dibutuhkan. Konstruksi kolam dan pengolahan lahan pada setiap tahap sama.

a. Pembuatan kolam
Bentuk pematang dibuat trapesium yaitu lebih lebar di bagian bawah, dengan kemiringan sebaiknya tidak lebih dari 45&degC. Untuk membuat kolam dilakukan pencangkulan guna membalik tanah dasar dengan “keduk teplok”, yaitu memperdalam saluran dan pemetakan kolam yang sekaligus memperbaiki pematangnya, sehingga ketinggian air kolam nantinya mencapai 60 m. Kowean dibuat di tengah kolam dengan ukuran 1x1x0,4 m dan diberi tanggul sehingga merupakan kolam kecil di dalam kolam (Lihat skema 4.2.). Kowean berfungsi untuk melepaskan benih berat 0,5 gram pada saat penebaran dan tempat unuk menangkap ikan saat panen. Setelah itu membuat caren dengan lebar 30 cm dan dalam 30 cm, yang berfungsi sebagai tampat pengumpulan benih pada saat air kolam dangkal atau surut dan untuk menggiring benih ke kowean saat panen

Konstruksi kolam pendederan ikan gurami
Pada saat persiapan pembuatan kolam dilakukan juga pengeringan dasar kolam. Setelah dasar kolam kering, diberikan kapur dengan dosis 100-200 gr/m2 dan pupuk kandang 500-1.000 gr/m2. Pupuk kandang yang cukup baik untuk digunakan adalah kotoran ayam karena memiliki unsur hara yang lengkap untuk menumbuhkan pakan alami, mudah terurai dan kandungan amoniaknya tidak terlalu tinggi. Pemupukan dilakukan untuk menyuburkan tanah sekaligus menumbuhkan pakan alami seperti Fitoplankton, Zooplankton dan Bentos yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan larva dan benih ikan gurami. Setelah itu dilakukan pengisian air dan dibiarkan selama 7 hari untuk memberi kesempatan pupuk terurai dan menumbuhkan pakan alami bagi benih gurami. Persediaan pakan alami ini dapat memenuhi kebutuhan benih ikan selama 11 s.d 14 hari. Di dasar kolam dekat pintu pemasukan air sebaiknya ditanami ganggang Hydrilla verticilata sebagai tempat berlindung dan mencari makan benih ikan gurami.

Pendederan
a. Penebaran benih
Sebelum benih ukuran 0,5 sampai 25 gram ditebar terlebih dahulu dilakukan pemilihan benih yang berkualitas baik untuk menjamin kualitas produksi ikan yang dipelihara. Dalam pemilihan benih tebaran yang perlu diperhatikan antara lain :

• Kondisi benih sehat, tidak cacat/luka dan gerakan lincah
• Warna sisik tidak terlalu hitam
• Sisik tubuh lengkap/tidak ada yang lepas
• Tubuh tidak kaku
• Ukuran seragam

Penebaran benih dilakukan 5 hari setelah pemupukan, dengan padat tebar dan tinggi air sesuai ukuran benih (lihat Tabel 4.3). Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu udara rendah. Sebelum ditebar, dilakukan penyesuaian suhu air dalam wadah angkut dengan suhu air kolam (proses aklimitasi) dengan cara memasukkan air kolam sedikit demi sedikit secara perlahan ke dalam wadah angkut. Setelah terjadi penyesuaian suhu, wadah angkut dimasukkan ke dalam kolam. Air akan bercampur sedikit demi sedikit dan ikan-ikan akan keluar dan berenang ke tengah kolam.

Jenis pakan dan Tahap Tinggi Air
D1
30-40 cm
40-60 ekor
Pakan alami (zooplanton), tubifex, tepung ikan atau pelet halus
D2
40-50 cm
30-40 ekor
Tepung ikan, bungkil atau pelet remah
D3
50-60 cm
20-30 ekor
Pelet remah/pelet kecil
D4
60-80 cm
± 20 ekor
Pelet atau daun-daunan (sente, talas, kajar)
D5
80-100 cm
± 20 ekor
Pelet dan atau daun-daunan Kebutuhan pakan berupa pelet per hari adalah 3% dari berat ikan namun jika pakan berupa daun-daunan kebutuhan pakan perhari sebanyak 5-10% dari berat ikan. Untuk penggunaan pakan secara kombinasi diberikan pelet sebanyak 1,5% per hari dari berat ikan dan hijauan sebanyak 5% per hari dari berat ikan. Pemberian pakan secara teratur dalam jumlah yang tepat dapat menghasilkan pertumbuhan ikan gurami yang optimal. Konversi pakan untuk pemeliharaan dalam kolam adalan 1,5-2%, artinya untuk menghasilkan 1 kg daging ikan memerlukan pakan sebanyak 1,5 kg sampai dengan 2 kg. Untuk memberikan pakan yang tepat sesuai kebutuhan dilakukan sampling berat ikan.

Pemanenan
Pemanenan ditahap pendederan dilakukan setelah benih mencapai berat 20-25 gram. Dalam pelaksanaan pemanenan yang perlu diperhatikan antara lain :

• Waktu pemanenan sebaiknya pagi atau sore hari
• Untuk memudahkan penangkapan, sebelum dilakukan penangkapan perlu dimasukkan daun pisang ke dalam kolam sebagai tempat berkumpulnya benih ikan.
• Proses penangkapan dilakukan secara hati-hati sehingga tidak sampai menyebabkan lepasnya sisik terutama pada bagian punggung
• Penangkapan benih ikan di kolam dilakukan pada kondisi temperatur air rendah dan tidak dalam kondisi hujan. Saat penangkapan kedalaman air kolam dibiarkan setinggi 20-30 cm.
• Pengangkutan benih juga sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari. Wadah angkut yang digunakan berupa drum (Volume 200 lt) atau jerigen. Drum diisi air setengan dari volume, posisi drum ditidurkan. Jumlah benih dalam setiap drum berkisar antara 10-15 kg tergantung lamanya proses pengangkutan.
• Setelah pemanenan, benih di jual kepada pengusaha pembesaran gurami atau dipelihara lagi di kolam lain untuk mendapatkan ukuran ikan yang lebih besar. Untuk mengupayakan agar tingkat kematian benih rendah, dalam pengiriman benih menggunakan jerigen atau drum yang diisi air bersih dan selama pengiriman benih ikan tidak diberi pakan (perut dikosongkan).

Pembenihan
1). Pemeliharaan induk
Induk-induk disimpan dalam kolam penyimpanan induk. Seekor induk membutuhkan luas kolam kurang lebih 5 meter dengan dasar kolam berpasir dan kedalaman air sekitar 75-100 cm. Pakan yang diberikan adalah daun-daunan sebanyak kurang lebih 5% dari berat populasi dan pakan diberikan pada setiap sore hari. Makanan tambahan dapat diberikan berupa pelet sebanyak 0,5-1% dari berat populasi. Pemberian pelet untuk induk dibatasi untuk mencegah timbunan lemak pada induk karena dapat mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan. Ukuran berat induk jantan sekitar 2-3 kg/ekor dan induk betina 2-2,5 kg/ekor. Induk gurami dapat dipijahkan 2 kali dalam setahun selama usia produktif (5 tahun) . Induk gurami dapat dipijahkan tidak lebih dari 10 kali karena jika lebih dari 10 kali memijah dikhawatirkan fekunditas (yaitu daya tetas telur menjadi larva), rendah dan mortalitas telur dan benih yang dihasilkan meningkat.

2). Penebaran induk dan proses pemijahan
Setelah proses pematangan gonad (yaitu organ hewan yang menghasilkan sperma dan telur) di kolam penampungan telah mencapai puncaknya, induk dimasukkan ke dalam petak kolam pemijahan. Luas kolam yang diperlukan untuk pemijahan adalah kurang lebih 20 m2 per pasang induk yang terdiri dari 1 ekor pejantan dan 3-4 ekor betina. Untuk mengetahui apakah induk telah siap memijah dapat diketahui dari ciri-ciri sebagai berikut :
Induk betina : Bagian perut belakang sirip dada kelihatan menggembung, Sisik -sisik agak terbuka
Induk jantan : Kedua belah rusuknya bagian perut membentuk sudut tumpul, Tingkahnya sangat agresif

Pembesaran
Dalam tahapan pembesaran, luas kolam optimal sekitar 200 m2 dengan konstruksi kolam berupa kolam tanah. Kedalaman air kolam sekitar 1 m dari dasar kolam dibuat tidak terlalu berlumpur. Persiapan kolam dalam tahapan ini tidak jauh berbeda dengan persiapan yang dilakukan pada tahap pendederan. Ikan yang dipelihara dapat berukuran berat 200-250 gram/ekor dan ditebar dengan kepadatan benih ± 1 -2 kg/m2. Pakan yang diberikan terdiri dari pelet dengan jumlah pemberian sebanyak 1,5 – 2% pada pagi dan sore hari serta daun-daunan sebanyak 5% diberikan pada sore hari. Dalam waktu 4 bulan ikan akan mencapai ukuran konsumsi dengan berat 500-700 gram/ekor. Pemanenan dilakukan sama seperti pada tahap pendederan, hanya saja pada tahap pembesaran pemanenen sebaiknya tanpa menggunakan alat tangkap. Ikan Gurami Konsumsi, Dipasarkan dengan berat di atas 500 gram

HAMA DAN PENYAKIT

Hama yang biasanya menganggu ikan gurami adalah ikan liar pemangsa seperti gabus (Ophiocephalus striatur BI), belut (Monopterus albus Zueiw), lele (Clarias batrachus L) dan lain-lain. Musuh lainnya adalah biawak (Varanus salvator Dour), kura-kura (Tryonix cartilagineus Bodd), katak (Rana spec), ular dan bermacam-macam jenis burung. Beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, mujair dan sepat dapat menjadi pesaing dalam perolehan makanan. Oleh karena itu sebaiknya benih gurami tidak dicampur pemeliharaannya dengan jenis ikan yang lain. Untuk menghindari gurami dari ikan-ikan pemangsa, pada pipa pemasukan air dipasangi serumbung atau saringan ikan agar hama tidak masuk dalam kolam.

Penyakit
Gangguan penyakit dapat berupa penyakit non parasiter dan penyakit parasiter. Gangguan penyakit dapat lebih mudah menyerang ikan gurami pada saat musim kemarau dimana suhu menjadi lebih lebih dingin. Penyakit non parasiter adalah penyakit yang timbul bukan karena serangan parasit, tapi biasanya bersumber dari faktor lingkungan fisika dan kimia air dan makanan. Penyakit ini bisa berupa pencemaran air karena adanya gas beracun seperti asam belerang atau amoniak, kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh karena keturanan. Untuk mengetahui gangguan yang dialami oleh ikan yang dipelihara dapat diketahui dari pengamatan terhadap ikan. Bila ada gas beracun dalam air, ikan biasanya lebih suka berenang pada permukaan air untuk mencari udara segar.

Penyakit parasiter diakibatkan parasit. Parasit adalah hewan atau tumbuh-tumbuhan yang berada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Berdasarkan letak penyerangannya parasit dibagi menjadi dua kelompok yaitu ektoparasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan endoparasit yang berada dalam tubuh ikan.

Ciri-ciri ikan yang terkena penyakit parasiter adalah sebagai berikut :

• Penyakit pada kulit : Pada bagian tertentu kulit berwarna merah, terutama pada bagian dada, perut dan pangkal sirip. Warna ikan menjadi pucat dan tubuhnya berlendir.
• Penyakit pada insang : Tutup insang mengembang, lembaran insang menjadi pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu.
• Penyakit pada organ dalam : Perut ikan membengkak, sisik berdiri. Kadang-kadang sebaiknya perut menjadi amat kurus, ikan menjadi lemah dan mudah ditangkap.
• Salah satu parasit yang sering menyerang ikan gurami adalah Argulus indicus yang tergolong Crustacea tingkat rendah yang hidup sebagai ektoparasit, berbentuk oval atau membundar dan berwarna kuning bening. Parasit ini menempel pada sisik atau sirip dan dapat menimbulkan lubang kecil yang akhirnya akan menimbulkan infeksi. Selanjutnya infeksi ini dapat menyebabkan patah sirip atau cacar. Parasit lainnya adalah bakteri Aeromonas hdyrophyla, Pseudomonas, dan cacing Thematoda yang berasal dari siput-siput kecil.

Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat dan memindahkan ikan ke dalam kolam lain dan melakukan penjemuran kolam yang terjangkit penyakit selama beberapa hari agar parasit mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset. Sementara pengobatan bagi ikan-ikan yang penyakitnya lebih berat dapat menggunakan bahan kimia seperti Kalium Permanagat (PK), neguvon dan garam dapur.

Selain penggunaan bahan kimia tersebut di atas, petani di daerah Banyumas menggunakan laun lambesar (Chromolaena odorata (L), RM King & H. Robinson ) sebagai antibiotik. Daun lambesan dimasukkan ke dalam kolam sebelum ikan di tebar yaitu pada saat pengolahan kolam. Banyaknya daun lambesan yang dipakai adalah 1 pikul (yaitu kurang lebih 50 kg) untuk luas tanah 25 m2. Penggunaan daun ini adalah 1 untuk 1 masa tanam.

Penggunaan obat-obatan kimia untuk ikan konsumsi tidak dilanjutkan mengingat dampak yang tidak baik kepada konsumen. Kalaupun diberikan obat-obatan tidak boleh langsung di jual kepada konsumen akhir. Penggunaan obat-obatan pada ikan konsumsi juga sebaliknya tidak diberikan apabila ikan hendak diekspor. Besarnya ikan-ikan konsumsi yang mati dibuang.

KENDALA PRODUKSI
1. Penyakit sering kali menjadi kendala karena dapat mengakibatkan menurunnya jumlah produksi ikan yang dapat di jual. Untuk mempercepat timbulnya penyakit maka diupayakan untuk menjaga kondisi kolam agar memenuhi persyaratan yang ditetapkan, disamping petani dapat menghubungi dinas atau Balai Benih Ikan setempat.

2. Gangguan musim umumnya terjadi pada saat musim kemarau yang mengakibatkan suhu lebih dingin sehingga oksigen berkurang dan ikan mudah terserah penyakit. Perubahan suhu yang dapat ditoler ikan adalah 5oC. Untuk mengantisipasi perubahan suhu dapat dilakukan pengaturan air masuk dan air keluar.

3. Sikap petani yang masih sulit mengubah pola budidaya ikan ke arah yang lebih intensif dan cendrung tetap mempertahankan pola budidaya yang telah dilakukan secara turun temurun. Akibatnya jumlah produksi gurami yang masih belum dapat memenuhi permintaan pasar. Dalam hal ini Dinas terkait perlu meningkatkan pembinaan kepada petani agar mau menerapkan pola budidaya yang lebih baik. 




(fotokita)